Siip.Info

Saturday, Jul 31st

Last update08:31:53 AM GMT

Headlines
Anda disini Pendidikan Referensi Pendidikan yang Inferior

Pendidikan yang Inferior

Add Comment
busy

Oleh: Imam Nawawi

www.siip.info -- Tidak hanya sekali saya mendengarkan pernyataan dosen ketika asyk mengikuti kuliah di UIKA Bogor, bahwa dirinya telah menjadi korban sistem pendidikan yang selama ini berlangsung.

Seharusnya kita sudah lebih baik dari saat ini, demikian ujarnya sebelum memberi penjelasan bahwa kita perlu mengadopsi teori-teori pendidikan dari hadis Nabi Muhammad saw.


Apa sebab seorang dosen yang telah mengenyam pendidikan dari SD sampai PT dan tingkat doktor itu berkata demikian?

Banyak sudut pandang yang bisa menjawab pertanyaan di atas. Namun sebagai seorang muslim semua itu tidak lain karena sekolah tidak lagi relevan dengan kebutuhan rakyat dan sebaliknya justru menghancurkan asa yang dibangun oleh jutaan keluarga.

Bagaimana tidak, sekolah kini lebih sering menjadi ajang para siswa melakukan tindak maksiat. Pacaran, kumpul kebo sudah bukan aib lagi saat ini. Bahkan beberapa orang tua justru gelisah jika malam Minggu putri kesayangannya tidak dikunjungi oleh teman prianya. Pada saat yang sama sekolah tidak mampu mendorong siswa untuk gemar membaca, meneliti dan berkarya.

Sekalipun ada masjid atau musholla di lingkungan sekolah tak lebih dari sekedar pelengkap instrumen pendidikan. Cukup jarang sholat berjama’ah digelar setiap harinya dimana para guru memberi teladan menjalankan perintah sentral dalam agama ini.

Inferiorisme


Pepatah melayu menyebutkan ‘ayam di ladang mati kelaparan. Itik di sungai mati kehausan’. Secara logika hal ini tidak mungkin tapi demikianlah realitanya di negeri ini.

Mari kita perhatikan komposisi negeri ini dimana muslim mayoritas dan sebagai pelaku sejarah yang paling heroik, pemandangan di atas sebenarnya sangat ganjil. Akan tetapi karena mental kita yang inferior menyebabkan kita tak terusik apalagi prihatin dengan kondisi tersebut.

Lihat pula sumber daya alam negeri ini, dari merica sampai batu bara semua ada di negeri katulistiwa ini. Akan tetapi lihat derita rakyatnya. Di hari raya ‘Idul Adha misalkan, tidak sedikit korban berjatuhan sekedar untuk mendapatkan dua kilogram daging. Belum lagi suasana penggusuran yang sangat tidak manusiawi di hampir seluruh negeri.

Semua ini karena pemerintah tidak memiliki konsep pembangunan yang jelas yang disebabkan oleh kondisi mental inferior yang melanda para pejabat negara.

Secara sederhana inferior berarti kondisi mental yang buruk, yakni kondisi manusia yang bermutu rendah dan selalu rendah diri. Konsekuensinya, manusia tersebut akan selalu mencari figur, meniru dan menjadikannya sebagai standar segala hal dalam hidupnya.

Kira-kira demikianlah negeri ini dan pendidikan khususnya. Pendidikan yang sejatinya mencakup aspek paling inti manusia yakni hati kini tercerabut dari akarnya. Sehingga kita dan kelak generasi yang akan datang mengenal pendidikan itu ya ujian.

Aspek kognitif telah menghilangkan keluhuran budi pekerti dan nilai-nilai ketaqwaan. Sebab kedua ranah terakhir dianggap intangible dan dalam teori positivisme tidaklah perlu untuk diperhatikan dan dipertimbangkan.

Entah anak itu jujur, pendusta, pembangkang terhadap orang tua dan pembuat onar di lingkungannya, jika ia mampu menyelesaikan ujian dengan melampaui target minimal maka anak itu akan lulus dan dianggap sebagai siswa yang ‘berprestasi’.

Superior

Sekalipun realitas di atas dipahami banyak kalangan namun dalam prakteknya cukup sedikit yang mengambil langkah perubahan. Hal ini tidak lain karena pemerintah dengan otoritasnya memaksakan kehendaknya.

Akan tetapi dalam skala terbatas dengan status kita sebagai mahasiswa dan pemuda muslim apa yang disampaikan Hidayatus Syufyan tentang keharusan kita menjadi mahasiswa muslim sejati patut kita apresiasi.

Pria yang menjabat kepala sektor akademik dan keprofesian ITB itu menyatakan bahwa mahasiswa muslim sejati itu tidak saja mampu berprestasi secara akademik di kelasnya. Namun juga secara sadar harus menjadi aktivis dakwah di kampus maupun masyarakat.

Lebih detail ia menuliskan

Mahasiswa muslim sejati harus berani maju ke depan untuk mempimpin berbagai organisasi kampus dan kemasyarakatan, baik itu pemimpin LDK, pemimpin BEM, pemimpin unit-unit kemahasiswaan, maupun pemimpin himpunan jurusan. Di samping itu, ia juga harus menunjukkan bahwa seorang mahasiswa muslim sejati mampu menjuarai berbagai kompetisi lomba, baik skala regional maupun internasional.

Dan, yang tidak kalah pentingya, seorang mahasiswa muslim sejati harus mau berbagi dengan menuangkan pemikirian-pemikirannya yang tajam dan cemerlang lewat tulisan-tulisannya di berbagai media massa. Dan, terakhir adalah seorang mahasiswa muslim sejati harus sudah menyiapkan dirinya untuk memenangkan tantangan kehidupan usai di kampusnya.

Tulisan ini sangat berani dan secara psikologis sangat membantu kita semua untuk bangkit dari keterpurukan akibat inferiorisme yang akut.

Apa yang dituliskan oleh Hidayatus Syufyan itu adalah dorongan agar kita memiliki jiwa superior. Jika Syufyan menekankan pada aspek individu maka saya ingin pemerintah dan masyarakat mendukung terciptanya suasana kampus atau sekolah yang senafas dengan ajaran Islam.

Oleh karena itu sudah bukan saatnya berdebat tentang UN apakah akan dilanjutkan atau dihapuskan. Hal mendesak untuk segera direalisasikan adalah sistem pendidikan yang superior, jauh dari tarik-menarik kepentingan elit dan kelompok tertentu.

Lebih dari itu dalam waktu dekat juga pemerintah harus membuat regulasi agar siswa sekolah tidak menjalin hubungan pacaran dan sekolah harus menjadi tempat yang sakral secara keilmuan. Dimana budi pekerti, ketaqwaan, kegemaran membaca, meneliti dan berkarya menjadi ciri khas penyelenggaraan pendidikan di seluruh negeri.

Jika ini benar-benar direspon oleh pemerintah dan masyarakat insyaallah dalam tempo sepuluh tahun ke depan bangsa ini akan menjadi bangsa yang superior. Tidak saja merdeka secara politik namun juga secara paradigma, sehingga bangsa ini akan murni tumbuh sebagai bangsa yang maju tanpa menengok pada konsep Barat yang hipokrit dan tamak terhadap dunia.

Penulis adalah Sekretaris Umum Pemuda Hidayatullah. Saat ini penulis sedang menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun, Bogor.

Komentar (0)

Tulis Komentar Anda
Perkecil | Perbesar


Write the displayed characters